Anugerah yang Membebaskan: Memahami Perbedaan antara Kasih Karunia dan Hukum Taurat

Banyak orang Kristen terkadang merasa terjebak di antara dua konsep ini: apakah kita diselamatkan oleh ketaatan pada Hukum Taurat, atau oleh Kasih Karunia? Jika Kasih Karunia itu membebaskan, apakah Hukum Taurat masih relevan? Memahami hubungan yang tepat antara kedua konsep ini, seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus, adalah kunci untuk menjalani kehidupan Kristen yang damai, penuh syukur, dan berbuah.
1. Tujuan Hukum Taurat: Menunjukkan Kebutuhan
Hukum Taurat (yang diberikan melalui Musa) memiliki tujuan yang sangat mulia, tetapi bukan untuk menyelamatkan. Tujuannya adalah:
- Pengungkap Dosa: Hukum itu seperti sinar-X yang menunjukkan penyakit dalam diri kita. “Aku tidak akan mengetahui dosa, kalau tidak ada hukum Taurat.” (Roma 7:7). Hukum menetapkan standar kekudusan Allah Bapa yang sempurna.
- Membuat Dunia Bersalah: Hukum menutup mulut setiap orang, membuktikan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memenuhi standar Allah melalui usaha sendiri.
- Penuntun kepada Kristus: Hukum bertindak sebagai “penuntun” (paedagogus) yang membawa kita kepada Tuhan Yesus Kristus, karena kita menyadari ketidakmampuan kita untuk menyelamatkan diri sendiri (Galatia 3:24).
Singkatnya: Hukum menuntut, tetapi tidak memberi kekuatan untuk memenuhi tuntutan tersebut.
2. Tujuan Kasih Karunia: Memberi Hidup dan Kekuatan
Kasih Karunia (charis) adalah anugerah atau pemberian yang tidak layak kita terima. Ini adalah tindakan Allah Bapa yang menyelamatkan kita dari murka-Nya, bukan berdasarkan perbuatan baik kita, melainkan berdasarkan Karya Penebusan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib.
- Penyelamatan: Kita diselamatkan hanya oleh Kasih Karunia melalui iman kepada Tuhan Yesus (Efesus 2:8-9).
- Pembenaran: Kasih Karunia membebaskan kita dari hukuman dosa. Di hadapan Allah Bapa, kita dinyatakan benar karena kita mengenakan kebenaran Kristus.
- Pemberdayaan: Kasih Karunia tidak menghapus tuntutan kekudusan; sebaliknya, Kasih Karunia memberi kita Roh Kudus, yang memungkinkan kita untuk benar-benar memenuhi tuntutan kekudusan Hukum Taurat (Roma 8:4).
3. Tiga Peran Hukum setelah Kristus
Jika kita di bawah Kasih Karunia, apakah Hukum Taurat dibuang? Tidak. Hukum Taurat memiliki tiga fungsi berkelanjutan bagi orang percaya:
- Cermin: Ia terus-menerus menunjukkan kepada kita di mana kita masih gagal dan perlu bertumbuh.
- Pembatas: Ia membantu menjaga keteraturan dalam masyarakat.
- Penuntun: Ia memimpin kita ke dalam kehendak Allah Bapa tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup yang benar.
Kasih Karunia bukanlah izin untuk berdosa; itu adalah kekuatan yang memungkinkan kita tidak perlu berdosa lagi (Roma 6:1-2).
4. Menjalani Hidup dalam Keseimbangan
Jangan pernah kembali mencoba mendapatkan kasih Allah melalui usaha keras mematuhi Hukum Taurat. Tuhan Yesus telah menyelesaikan semuanya. Ketika Anda menjalani hidup di bawah Kasih Karunia, ketaatan Anda berubah dari kewajiban yang menyakitkan menjadi respon sukacita yang didorong oleh rasa syukur atas pengorbanan Kristus.
Hiduplah dalam kebebasan yang dibawa oleh Kasih Karunia Tuhan Yesus. Ia telah memenuhi tuntutan Hukum Taurat bagi Anda. Sekarang, biarkan Roh Kudus memberdayakan Anda untuk menaati Allah Bapa bukan karena takut dihukum, tetapi karena cinta yang dalam kepada-Nya.




