Lilin di Tengah Badai: Belajar dari Keteguhan Hati Corrie ten Boom

Pengabdian yang Berisiko

Corrie ten Boom adalah seorang pembuat jam asal Belanda yang hidupnya berubah drastis selama Perang Dunia II. Bersama keluarganya, Corrie yang merupakan penganut Kristen yang taat memutuskan untuk mengubah rumah mereka menjadi tempat persembunyian bagi orang-orang Yahudi yang dikejar oleh rezim Nazi. Motivasi mereka sangat sederhana namun mendalam: kasih kepada sesama adalah perintah Tuhan Yesus Kristus yang tidak bisa ditawar, bahkan jika nyawa menjadi taruhannya. Keberanian ini membawa keluarga Ten Boom pada risiko besar yang akhirnya berujung pada penangkapan mereka oleh pihak keamanan.

Terang di Dalam Kegelapan Kamp Konsentrasi

Corrie dan saudaranya, Betsie, dikirim ke kamp konsentrasi Ravensbrück, tempat yang penuh dengan kekejaman, kelaparan, dan keputusasaan. Di tengah lingkungan yang sangat gelap tersebut, Corrie tetap memegang sebuah Alkitab kecil yang berhasil ia selundupkan. Setiap malam, di barak yang penuh dengan kutu dan aroma penderitaan, mereka mengadakan persekutuan doa rahasia bagi para tawanan lainnya. Corrie belajar dari saudaranya, Betsie, bahwa tidak ada lubang yang begitu dalam sehingga kasih Allah Bapa tidak lebih dalam lagi. Mereka menjadi lilin kecil yang memberikan harapan bagi ribuan wanita lain yang telah kehilangan alasan untuk hidup.

Ujian Terberat: Kekuatan Pengampunan

Setelah perang berakhir dan Corrie dibebaskan, ia mendedikasikan hidupnya untuk berkeliling dunia membagikan pesan tentang kasih Allah Bapa. Namun, ujian iman terbesarnya terjadi pada tahun 1947 di sebuah gereja di Munich. Di sana, ia bertemu kembali dengan salah satu penjaga kamp Ravensbrück yang paling kejam, yang kini meminta pengampunan darinya. Corrie merasa hatinya membeku, namun ia ingat bahwa pengampunan adalah sebuah pilihan kehendak, bukan perasaan. Saat ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan mantan penjaga itu, ia merasakan kuasa Tuhan Yesus Kristus mengalir melalui dirinya, memampukannya untuk mengampuni secara tulus.

Warisan Iman bagi Kita

Kisah Corrie ten Boom mengingatkan kita bahwa kasih dan harapan Kristen tidak bergantung pada keadaan di sekitar kita. Di tempat yang paling tidak manusiawi sekalipun, kasih Allah Bapa tetap mampu bekerja melalui hati yang berserah. Pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup yang bebas dari badai, namun Ia menjanjikan penyertaan yang sempurna di tengah badai tersebut. Hari ini, kita ditantang untuk menjadi pembawa terang di lingkungan kita masing-masing, memilih untuk mengasihi dan mengampuni sebagaimana Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu.

Berbagi
×