Menemukan Arah di Persimpangan Jalan: Bedah Makna Amsal 3:5-6

Dilema Antara Logika dan Iman
Manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk merasa paling tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Kita dididik untuk menjadi mandiri, cerdas, dan kalkulatif dalam merencanakan masa depan. Namun, Kitab Amsal memberikan sebuah nasihat yang terdengar berlawanan dengan arus dunia: jangan bersandar pada pengertianmu sendiri. Di penghujung tahun 2025 ini, banyak dari kita mungkin sedang berada di persimpangan jalan, menghadapi pilihan-pilihan sulit yang menentukan. Amsal 3:5-6 hadir bukan untuk meremehkan kecerdasan kita, melainkan untuk memberikan landasan yang lebih kokoh bagi kecerdasan itu, yaitu kepercayaan mutlak kepada kedaulatan Allah Bapa.
Syarat Pertama: Kepercayaan yang Utuh
Ayat 5 dimulai dengan perintah: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu.” Kata “segenap hati” menuntut penyerahan total tanpa ada bagian yang disimpan untuk cadangan. Sering kali kita percaya kepada Tuhan hanya untuk hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, tetapi tetap memegang kendali penuh atas hal-hal yang kita rasa mampu lakukan sendiri. Namun, kepercayaan yang sejati adalah mengakui bahwa bahkan di area di mana kita ahli sekalipun, kita tetap membutuhkan campur tangan Tuhan Yesus Kristus. Pengertian manusia itu terbatas dan sering kali dipengaruhi oleh emosi sesaat atau persepsi yang salah, sementara pengertian Allah Bapa adalah kekal dan tidak pernah salah.
Syarat Kedua: Pengakuan dalam Segala Laku
Syarat selanjutnya adalah: “Akuilah Dia dalam segala lakumu.” Mengakui Tuhan tidak hanya berarti menyebut nama-Nya saat ibadah hari Minggu, tetapi melibatkan-Nya dalam setiap detail kehidupan—mulai dari cara kita mengelola keuangan, berbicara dengan keluarga, hingga cara kita bekerja. Mengakui Dia berarti menanyakan kehendak-Nya sebelum kita berkata “ya” pada sebuah kesempatan. Ini adalah bentuk kerendahan hati yang mengakui bahwa tanpa-Nya, segala keberhasilan kita akan hampa. Saat kita menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama dalam setiap aspek, kita sedang membangun fondasi yang tidak akan tergoyahkan oleh badai apa pun.
Janji: Jalan yang Diluruskan
Hasil dari ketaatan ini adalah sebuah janji yang luar biasa: “maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Memiliki jalan yang diluruskan tidak selalu berarti jalan itu akan bebas dari hambatan atau tantangan. Meluruskan jalan berarti Tuhan akan menyingkirkan rintangan yang tidak perlu, memberikan kejelasan di tengah kebingungan, dan memastikan bahwa kita sampai pada tujuan yang telah Ia tetapkan. Ia menjadi pemimpin perjalanan kita. Ketika kita berhenti memaksakan kehendak kita dan mulai mengikuti irama Tuhan Yesus Kristus, perjalanan hidup kita akan memiliki makna yang jauh lebih dalam. Percayalah bahwa Allah Bapa yang memegang hari esok adalah Allah yang sama yang sedang memegang tangan Anda hari ini.




