Perjalanan Iman Pendeta Xinping: Dari Jalanan Hingga Mimbar

Pada tahun 1999, Xinping baru saja lulus dari sebuah universitas di utara Tiongkok. Seperti banyak anak muda lainnya, ia berangkat seorang diri ke selatan dengan keyakinan bahwa pendidikan dan pekerjaan yang baik akan memberi arti bagi hidupnya.

Pekerjaan pertamanya adalah di sebuah pabrik tekstil dengan investasi dari Hong Kong, terletak di pinggiran kota pesisir. Kerajinan dan tanggung jawabnya membuat para atasan percaya padanya. Bahkan, sang pemilik pabrik sempat menawarinya posisi manajerial.

Namun di balik kestabilan itu, hatinya tetap kosong. “Setelah shift malam, ketika fajar baru menyingsing, aku menatap langit dan bertanya, ‘Bintang mana yang milikku?’” kenangnya kemudian.

Tak lama setelah itu, ia memutuskan untuk mengundurkan diri.

Pertemuan Tak Terduga yang Mengubah Segalanya

Saat mencari pekerjaan di pusat kota, Xinping bertemu dengan seorang wanita lanjut usia yang berjualan buah di pinggir jalan. Usianya lebih dari enam puluh tahun, penglihatannya sudah lemah, geraknya lambat, namun ia menyambut Xinping dengan hangat. Ketika pembeli berdesakan, ia bahkan meminta Xinping membantu menimbang buah dan menerima uang.

Setelah keramaian reda, wanita itu membelikan Xinping nasi kotak berisi lauk daging dan sayur—suatu pengorbanan besar pada masa itu—sementara ia sendiri hanya makan menu sederhana. Dalam obrolan singkat, ia menyebut bahwa dirinya seorang Kristen.

Xinping tidak tertarik pada agama, tetapi hatinya tergelitik oleh sosok wanita ini. Mengapa ia bekerja sendirian di jalanan? Di mana anak-anaknya? Wanita itu hanya tersenyum dan berkata ringan, “Saya hanya sedang jalan-jalan.”

Hari demi hari, Xinping kembali ke lapak buah itu setelah melamar pekerjaan. Anehnya, di sana ia merasa paling tenang. Namun lama-kelamaan ia mulai melihat hal-hal yang membuatnya resah: wajah dan tangan wanita itu penuh bekas gigitan nyamuk, air minum yang dibawanya hanyalah air keran tanpa dimasak, dan jawaban samar tentang tempat tinggalnya. Akhirnya, ia mengaku bahwa ia sementara tinggal di sebuah gereja.

Suatu malam, rasa khawatir mendorong Xinping untuk mencarinya. Ia menuju gereja yang disebutkan wanita itu—sebuah bangunan tua yang sudah dijadwalkan untuk dibongkar. Tangga gelap penuh puing. Ia naik ke lantai paling atas dan memanggil namanya, tetapi tak ada jawaban.

Saat hendak berbalik, sebuah pikiran muncul dalam hatinya: “Jika aku menemukannya, aku akan menyewa tempat dan menampungnya.”

Belajar Iman Lewat Kesulitan Bersama

Beberapa saat kemudian, di balik dinding yang rusak, Xinping melihatnya. Ia berbaring sendirian di atas kardus tipis, dikelilingi pecahan kaca yang sudah ia sisihkan. Gerimis turun perlahan. Dari tempat Xinping berdiri, seolah-olah ia sedang tidur di antara serpihan kaca.

Xinping tidak membangunkannya. Ia pergi dengan diam, namun hatinya tidak lagi tenang.

Keesokan paginya, Xinping memberanikan diri bertanya: maukah sang wanita menyewa tempat bersama? Ia berkata, wanita itu tidak perlu membayar sewa—cukup mengajarinya cara berjualan buah.

“Aku harus bertanya pada Tuhan,” jawabnya. Ia menulis dua kertas kecil: satu bertuliskan ya, satu lagi tidak. Saat diundi, yang terambil adalah ya. Dengan senyum sederhana ia berkata, “Yesus bilang kita bisa tinggal bersama.”

Mereka pun menyewa kamar kecil dengan dua ranjang. Hari-hari dimulai sebelum fajar. Sang wanita berdoa sambil berjalan mondar-mandir, lalu menyiapkan sarapan sebelum membangunkan Xinping untuk pergi ke pasar grosir.

Berjualan buah melelahkan, namun jujur. Ketika petugas kota mengusir mereka, penghasilan hilang. Saat penjualan sepi, ia mencoba praktik pengobatan tradisional di taman, menggantung kain bertuliskan ayat Alkitab yang ditulis rapi oleh Xinping: “Hidup tidak terdiri dari makanan, dan tubuh tidak terdiri dari pakaian.”

Di bulan-bulan itu, ia menceritakan kisah hidupnya: lahir tahun 1939, masa kecil yang diwarnai perang dan kelaparan, suami yang meninggal karena kanker, serta tahun-tahun sakit dan putus asa. Hingga suatu hari ia bermimpi tentang sebuah gereja yang ingin sekali ia masuki—dan di sanalah ia mulai percaya kepada Yesus.

Imannya sederhana, keras kepala, sekaligus nyata. Ia tidak pernah menyia-nyiakan apa pun, menanggung kesulitan tanpa keluhan, dan percaya penuh kepada Tuhan dengan hati seorang anak kecil.

Xinping mendengarkan—dan belajar.

Doa yang Menjadi Titik Balik

Ketika keuangan semakin sulit, Xinping mulai khawatir tentang biaya sewa dan makanan. Suatu malam, sendirian di kamar, ia berdoa untuk pertama kalinya: “Tuhan, aku tidak tahu apakah Engkau ada. Tapi jika bulan depan aku tak bisa membayar sewa, aku masih punya tempat. Dia tidak. Jika Engkau nyata, tolonglah dia yang percaya kepada-Mu.”

Malam itu juga, mantan pemilik pabriknya menghubungi. Beberapa hari kemudian, istrinya menawarkan apartemen kosong untuk mereka tempati sementara. Bagi Xinping, waktunya terlalu tepat untuk dianggap kebetulan.

Tak lama kemudian, sang wanita tua kembali ke utara dan berkata, “Tugas saya sudah selesai.” Xinping tak pernah melihatnya lagi—tetapi perjalanan imannya baru saja dimulai.

Dari Dunia Korporasi ke Panggilan Ilahi

Bertahun-tahun kemudian, Xinping membangun karier sukses di sebuah perusahaan telekomunikasi, memimpin hotline konseling dengan lebih dari delapan puluh staf. Ia terbuka tentang imannya dan sering membagikan Injil kepada rekan kerja.

Namun ketika proyek itu ditutup, ia harus memilih: tetap di dunia korporasi atau mengikuti panggilan Tuhan. Ia memilih pelayanan penuh waktu. Meski begitu, ia merasa gelisah—gereja pun bisa menjadi prosedural, seperti kantor. Dalam doa, seorang pendeta tamu berkata kepadanya: “Engkau akan menjadi berkat bagi orang miskin.”

Kata-kata itu mengubah arah hidupnya.

Belajar Hidup Bersandar pada Tuhan

Xinping kembali ke lingkungan tempat ia pertama kali bertemu penjual buah itu. Ia tidur di atas koran, mengumpulkan botol bekas, mandi di toilet umum, bahkan makan dari sisa makanan. Rasa malu memudar, tetapi kerinduan akan Tuhan bertumbuh.

Ia berdoa, membaca Alkitab, bertobat, dan menangis. “Untuk pertama kalinya aku benar-benar mengerti apa artinya hidup oleh iman,” katanya.

Di jalanan, ia berteman dengan para tunawisma, berdoa bersama mereka, berbagi makanan, dan melihat hidup berubah. Meski hujan, sakit, kekerasan, dan kesepian datang silih berganti, ia tetap bersyukur—bahkan ketika pernah dipukul hingga pingsan, ia mengingat penderitaan Paulus dan tertawa dalam iman.

Menjadi Berkat bagi yang Miskin

Empat bulan kemudian, doa membawanya pada arah baru. Ia kembali ke gereja untuk merawat seorang jemaat yang terluka, lalu pulang ke kampung halaman. Keputusan untuk melayani penuh waktu sempat sulit diterima keluarganya, tetapi akhirnya ibunya percaya kepada Kristus dan mengalami kesembuhan.

Xinping kemudian memulai pelayanan khusus bagi tunawisma. Ia membuka kamar mandi gereja untuk mereka, mengumpulkan sayuran sisa dari pasar, dan bahkan tinggal bersama mereka selama tiga tahun. Dari musim panas yang terik hingga musim dingin yang menusuk, ia menyaksikan hidup demi hidup dipulihkan.

Salah satunya adalah Saudara Luo, yang sejak kecil hidup di jalanan. Setelah bertemu Xinping, ia menemukan rumah di gereja, mendapat identitas resmi, dan kini menjadi relawan yang melayani tunawisma lain.

Selama lebih dari dua dekade, Xinping tetap setia membagikan makanan, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari. Pengalaman hidup di jalanan membuatnya benar-benar memahami luka terdalam orang miskin—dan meneguhkan panggilan Tuhan atas hidupnya: menjadi berkat bagi mereka.

Disclaimer: Nama-nama tokoh dalam kisah ini tidak disebutkan dan menggunakan nama samaran demi alasan keamanan.

Berbagi
×