Resolusi atau Revolusi Hati? Menata Ulang Prioritas Iman di 2026

Januari selalu membawa aroma yang khas: aroma kertas jurnal yang baru, kopi yang diseduh dengan semangat baru, dan daftar panjang berisi mimpi-mimpi yang ingin kita capai. Kita menyebutnya resolusi. Kita berjanji untuk hidup lebih sehat, bekerja lebih giat, dan—tentu saja—menjadi orang Kristen yang “lebih baik”.

Namun, mari jujur sejenak. Jika kita menoleh ke belakang, berapa banyak resolusi rohani kita yang bertahan melewati bulan Februari? Seringkali, kita terjebak dalam siklus “melakukan” (doing) namun lupa untuk “menjadi” (being). Kita sibuk mengejar target bacaan Alkitab, tapi hati kita tetap terasa gersang.

Di tahun 2026 ini, mungkin yang kita butuhkan bukanlah sekadar resolusi baru, melainkan sebuah revolusi hati.

Mengapa Hati Menjadi Kunci?

Dalam Amsal 4:23, kita diingatkan dengan sangat keras: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Resolusi biasanya berfokus pada perubahan perilaku luar. Kita mencoba memperbaiki apa yang terlihat. Namun, revolusi hati bekerja dari dalam ke luar. Revolusi hati tidak bertanya, “Apa yang harus aku lakukan untuk Tuhan tahun ini?” melainkan “Siapakah Tuhan bagiku saat ini?”

Ketika hati kita mengalami revolusi dan kembali berpusat pada Kristus, maka prioritas hidup kita akan tertata dengan sendirinya tanpa merasa terbebani oleh daftar kewajiban.

3 Pilar Menata Ulang Prioritas Iman

Untuk memulai revolusi ini, ada tiga pilar sederhana yang bisa kita bangun kembali di awal tahun ini:

1. Intimasi di Atas Aktivitas

Banyak dari kita terjebak dalam “kesibukan rohani” tetapi kehilangan “keintiman rohani”. Kita melayani di gereja, mendengarkan podcast khotbah sambil menyetir, tapi jarang duduk diam benar-benar mendengarkan suara-Nya. Cobalah untuk menyediakan waktu “hening” tanpa gangguan notifikasi. Biarkan doa menjadi napas, bukan sekadar laporan harian.

2. Mengakar pada Firman, Bukan Tren

Dunia di tahun 2026 bergerak begitu cepat dengan segala opininya. Jika kita tidak memiliki akar yang kuat dalam Firman Tuhan, kita akan mudah terbawa arus kecemasan dan standar dunia. Jadikan Alkitab sebagai lensa untuk melihat setiap masalah, bukan sekadar buku kutipan untuk status media sosial.

3. Komunitas yang Bertumbuh

Iman kita tidak dirancang untuk dijalani sendirian. Revolusi hati seringkali terjadi melalui percakapan di meja makan dengan saudara seiman yang saling menguatkan. Carilah komunitas yang tidak hanya membuatmu nyaman, tapi juga membuatmu bertumbuh dan berani menghadapi tantangan iman.

Langkah Kecil untuk Perubahan Besar

Jangan merasa terintimidasi untuk melakukan perubahan besar dalam satu malam. Revolusi hati seringkali dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten:

  • Audit Waktu: Coba lihat fitur screen time di ponselmu. Jika kita punya waktu 2 jam untuk media sosial, mungkinkah kita bisa memberikan 15 menit pertama di pagi hari untuk bersaat teduh?
  • Prinsip “First Fruits”: Berikan waktu terbaikmu untuk Tuhan. Jika kamu orang yang paling fokus di pagi hari, berikan itu untuk-Nya. Jangan berikan “sisa-sisa” energimu di penghujung malam hanya untuk membaca satu ayat sebelum tertidur.
  • Rayakan Proses: Jika suatu hari kamu gagal atau lupa, jangan menyerah. Kasih setia Tuhan selalu baru setiap pagi (Ratapan 3:22-23). Bangunlah kembali dan mulailah lagi.

Penutup

Tahun 2026 bukan tentang menjadi manusia yang sempurna tanpa celah. Tahun ini adalah tentang menjadi manusia yang lebih dekat, lebih bergantung, dan lebih mengasihi Kristus daripada tahun sebelumnya.

Mari berhenti sejenak dari kebisingan dunia. Tarik napas dalam-dalam, dan izinkan Tuhan merombak hatimu. Karena saat hati kita benar di hadapan-Nya, segalanya akan menempati posisi yang seharusnya.

Reflection Box untuk Kamu

  • Jika jadwal harianmu adalah sebuah cermin, di bagian mana kehadiran Tuhan terlihat paling jelas?
  • Apa satu hal (kebiasaan atau kekhawatiran) yang ingin kamu lepaskan di hadapan Tuhan minggu ini agar hatimu lebih tenang?
Berbagi
×