Kasih yang Berkorban: Mengikuti Jejak Sang Kristus

Definisi Kasih yang Sejati

Dunia sering kali menggambarkan kasih sebagai perasaan yang menyenangkan, romantis, atau emosional. Namun, dalam Alkitab, jenis kasih yang paling tinggi—agape—sama sekali tidak didasarkan pada perasaan, melainkan pada keputusan kehendak untuk bertindak demi kebaikan orang lain, bahkan dengan pengorbanan pribadi. Kasih ini tidak bertanya “Apa untungnya bagiku?”, melainkan “Apa yang bisa kuberikan?”. Di awal tahun 2026 ini, kita diajak untuk mengevaluasi kembali fondasi hubungan kita: apakah didasarkan pada kepentingan diri sendiri atau pada kasih yang rela berkorban seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus?

Teladan dari Kayu Salib

Standar kasih kristiani ditentukan di Bukit Golgota. Yohanes 3:16 mencatat bahwa Allah begitu mengasihi dunia sehingga Ia “mengaruniakan” Putra Tunggal-Nya. Kasih sejati selalu disertai dengan tindakan memberi yang merugikan diri sendiri demi keuntungan pihak lain. Tuhan Yesus tidak mengasihi kita karena kita layak, melainkan karena Ia memilih untuk mengasihi kita. Pengorbanan-Nya adalah bentuk kasih yang paling murni, di mana Sang Pencipta bersedia menderita demi ciptaan-Nya. Bagi kita hari ini, mengikuti jejak Kristus berarti bersedia mengorbankan ego kita, kenyamanan kita, dan keinginan kita untuk selalu menjadi yang benar demi memenangkan hati sesama bagi Tuhan.

Pengorbanan dalam Keseharian

Menghidupi kasih yang berkorban tidak selalu berarti melakukan tindakan heroik yang besar. Sering kali, itu berarti hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Itu bisa berarti tetap bersabar saat anggota keluarga melakukan kesalahan, tetap memilih untuk tidak membalas saat dihina di tempat kerja, atau meluangkan waktu istirahat kita untuk membantu sahabat yang sedang berduka. Pengorbanan-pengorbanan kecil ini adalah “kematian diri” yang menghasilkan kehidupan bagi orang lain. Saat kita memilih untuk tidak mementingkan diri sendiri, kita sedang membiarkan karakter Kristus terpancar melalui diri kita. Inilah yang membedakan orang percaya dengan dunia: kemampuan untuk mengasihi melampaui batas kenyamanan.

Dampak Kasih yang Memberi Diri

Mengapa kita harus mengasihi dengan cara yang melelahkan ini? Karena kasih yang berkorban memiliki kuasa untuk mengubah hati. Tidak ada argumen teologis yang lebih kuat daripada tindakan kasih yang nyata. Ketika dunia melihat seorang Kristen yang rela rugi demi kebenaran atau rela memberi demi kasih, mereka melihat bukti nyata kehadiran Allah Bapa. Mari kita jadikan tahun 2026 ini sebagai tahun di mana kita tidak hanya bicara tentang kasih, tetapi benar-benar menghidupinya. Biarlah setiap interaksi kita diwarnai oleh semangat pengorbanan Kristus, sehingga melalui hidup kita, banyak orang akan tertarik untuk mengenal Sang Sumber Kasih yang sejati.

Berbagi
×