Sepuluh Orang Kusta: Antara Kesembuhan Fisik dan Pemulihan Iman

Terasing di Pinggiran Desa
Penyakit kusta pada zaman Alkitab bukan hanya penderitaan fisik, tetapi juga penderitaan sosial dan religius. Seseorang yang menderita kusta harus tinggal terasing, berpakaian compang-camping, dan berteriak “Najis! Najis!” setiap kali ada orang yang mendekat. Inilah kondisi sepuluh orang yang berdiri jauh-jauh ketika melihat Tuhan Yesus Kristus masuk ke sebuah desa di perbatasan Samaria dan Galilea. Meskipun mereka terbuang dari masyarakat, mereka telah mendengar kabar tentang Yesus. Dengan satu suara keputusasaan, mereka berseru: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Teriakkan mereka adalah gabungan antara penderitaan yang mendalam dan harapan yang tersisa.
Ujian Ketaatan di Tengah Jalan
Menariknya, Yesus tidak langsung menyentuh atau menyatakan mereka sembuh saat itu juga. Ia memberikan perintah yang merupakan ujian iman: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Menurut hukum Taurat, imamlah yang berhak menyatakan seseorang tahir dari kusta. Mereka disuruh pergi ke imam saat tubuh mereka masih penuh kusta. Cerita mencatat sebuah detail yang luar biasa: “Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.” Mukjizat itu terjadi saat mereka melangkah dalam ketaatan. Ini mengajarkan kita bahwa sering kali pertolongan Allah Bapa datang bukan saat kita diam menunggu, melainkan saat kita mulai melangkah menuruti firman-Nya meskipun situasi belum berubah.
Kontras Antara Berkat dan Sang Pemberi
Setelah menyadari bahwa mereka telah sembuh, sembilan orang terus berlari menuju imam, mungkin karena sangat ingin segera kembali ke kehidupan normal mereka. Namun, satu orang—seorang Samaria yang sering dianggap rendah oleh bangsa Yahudi—berhenti. Ia tidak lagi peduli pada validasi imam saat itu; ia hanya ingin bertemu dengan Sang Juru Selamat. Ia kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur. Di sinilah Yesus membedakan antara kesembuhan jasmani dan keselamatan rohani. Kesembuhan fisik dialami oleh semua, namun pemulihan hubungan dengan Allah hanya dialami oleh dia yang kembali dengan syukur.
Makna bagi Perjalanan Kita
Kisah ini mengingatkan kita di awal tahun 2026 bahwa berkat Tuhan bisa menjadi “berkat yang membutakan” jika kita tidak waspada. Terkadang, kesuksesan, kesembuhan, atau jawaban doa membuat kita begitu asyik dengan “hasil” sehingga kita melupakan “Sumbernya”. Allah Bapa merindukan sebuah hubungan, bukan sekadar transaksi permintaan dan pemberian. Mari kita belajar untuk tidak terburu-buru meninggalkan hadirat Tuhan setelah kita menerima apa yang kita cari. Jadilah “orang kesepuluh” yang selalu punya waktu untuk kembali, tersungkur, dan mengakui bahwa segala yang baik dalam hidup kita berasal dari kemurahan Tuhan Yesus Kristus semata.




