Apakah Kasih di Antara Orang Kristen Itu Unik?

Kasih sebagai Ciri Utama Kekristenan
Salah satu ciri khas iman Kristen adalah perintah untuk mengasihi—baik mengasihi Allah maupun sesama manusia. Kasih adalah inti dari ajaran Yesus: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37–39).
Namun, jika kita meneliti Alkitab dengan lebih mendalam, kita akan menemukan bahwa ada kualitas khusus dalam kasih yang seharusnya dimiliki orang Kristen terhadap sesama mereka. Pertanyaannya: bagaimana kasih ini berbeda dari kasih yang diperintahkan untuk diberikan kepada semua orang?
Panggilan Universal untuk Mengasihi
Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa semua manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27), sehingga setiap orang memiliki nilai, martabat, dan layak menerima kasih. Karena itu, orang Kristen dipanggil untuk mengasihi sesama (Markus 12:31), bahkan Yesus memperluas definisi “sesama” hingga mencakup musuh sekalipun (Matius 5:44).
Kasih universal ini diwujudkan melalui tindakan nyata: kebaikan, kemurahan hati, dan pengampunan. Dengan cara ini, kita mencerminkan kasih Allah kepada seluruh umat manusia dan meneladani anugerah umum-Nya—berkat yang Ia limpahkan kepada semua orang tanpa memandang hubungan mereka dengan-Nya.
Kasih yang Unik di Antara Orang Kristen
Namun, ada kasih yang bersifat khusus di dalam tubuh Kristus. Yesus berkata: “Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34–35).
Kasih ini bersifat rela berkorban, mencerminkan kasih Yesus kepada para pengikut-Nya. Melalui kasih inilah orang Kristen dibedakan dari dunia. Kasih Kristiani melampaui sekadar belas kasih atau keramahan; ia masuk ke dalam ranah kesatuan rohani yang mendalam. Kasih ini tampak ketika kita saling menanggung beban (Galatia 6:2), saling mendorong dalam perbuatan baik (Ibrani 10:24), serta saling bersukacita dan berduka (Roma 12:15).
Pada hakikatnya, kasih Kristiani seharusnya mencerminkan kasih di dalam Tritunggal—kasih yang saling memberi antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Gereja yang dipersatukan di dalam Kristus dipanggil untuk mencerminkan kesatuan ilahi yang mendalam ini (Yohanes 17:21).
Kasih yang Dikerjakan oleh Roh Kudus
Salah satu alasan utama mengapa kasih antar orang Kristen bersifat unik adalah karena kemampuan untuk mengasihi seperti yang diperintahkan merupakan karya Roh Kudus. Paulus menulis: “Buah Roh ialah kasih” (Galatia 5:22). Kasih Kristiani bersifat supranatural, melampaui kapasitas manusia, berakar dalam kesatuan kita dengan Kristus, dan dipelihara oleh Roh yang tinggal di dalam kita.
Kita memang dapat mengasihi orang yang belum percaya, tetapi ikatan kasih supranatural yang saling timbal balik hanya dapat dialami di antara orang-orang percaya. Kasih ini menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia. Yesus menekankan bahwa kasih kita satu sama lain akan menjadi bukti nyata iman kita (Yohanes 13:35). Melalui kasih Kristiani yang khas inilah dunia dapat melihat kuasa Injil yang mengubahkan.
Kesimpulan
Jadi, meskipun orang Kristen dipanggil untuk mengasihi semua orang—baik sesama maupun musuh—sebagai ciptaan Allah, ada kasih yang bersifat khusus, rela berkorban, dan mengekspresikan kesatuan rohani yang harus dimiliki antar sesama orang percaya. Kasih yang unik ini, yang digerakkan oleh Roh Kudus, menjadi saksi iman kita.
Kiranya dalam kehidupan sehari-hari kita berusaha mengasihi sebagaimana Kristus telah mengasihi kita, membangun kesatuan dalam tubuh Kristus, dan memancarkan kasih-Nya kepada dunia di sekitar kita.




