Sabat dan Restorasi Jiwa: Mengapa Kita Butuh Berhenti Sejenak?

Budaya Kelelahan

Kita hidup di zaman di mana kesibukan sering dianggap sebagai lambang kesuksesan. Orang-orang merasa bersalah jika mereka tidak produktif, dan gawai membuat kita terhubung dengan pekerjaan selama 24 jam sehari. Akibatnya, banyak orang Kristen mengalami kelelahan jiwa (spiritual burnout). Namun, sejak awal penciptaan, Allah Bapa telah memberikan sebuah pola kehidupan yang sangat indah melalui hari ketujuh, yaitu Sabat. Sabat bukan sekadar “hari libur” dari pekerjaan fisik, melainkan sebuah institusi suci yang dirancang untuk menjaga kesehatan total manusia: tubuh, jiwa, dan roh.

Mengakui Keterbatasan

Prinsip Sabat mengajarkan kita untuk berhenti (cease). Ketika kita dengan sengaja berhenti bekerja satu hari dalam seminggu, kita sebenarnya sedang membuat pernyataan iman yang kuat. Kita sedang mengakui bahwa dunia tidak berhenti berputar karena kita berhenti bekerja, dan bahwa Allahlah yang sebenarnya memelihara hidup kita, bukan hasil jerih payah kita semata. Sabat adalah bentuk kerendahan hati di mana kita menundukkan ego kita yang merasa “sangat penting” di bawah kedaulatan Allah Bapa. Ini adalah waktu di mana kita merayakan bahwa kita dikasihi bukan karena apa yang kita kerjakan, melainkan karena siapa diri kita di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Restorasi dan Penikmatan Hadirat

Kata Sabat dalam bahasa Ibrani berarti “istirahat” atau “berhenti”. Namun, istirahat Kristiani tidaklah kosong. Istirahat ini diisi dengan penyembahan, persekutuan, dan penikmatan akan ciptaan Tuhan. Sabat adalah momen di mana jiwa kita direstorasi. Di sinilah kita “mengisi ulang” tangki rohani kita dengan merenungkan kebaikan Tuhan sepanjang minggu yang lalu. Tanpa Sabat, hidup kita menjadi kering dan mekanis. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Markus 2:27). Artinya, Tuhan memberikan prinsip ini sebagai hadiah bagi kita agar kita tidak hancur oleh tekanan dunia.

Menghidupi Sabat di Dunia Modern

Bagaimana kita mempraktikkan Sabat di tahun 2026 ini? Ini mungkin berarti mematikan notifikasi media sosial selama beberapa jam, makan bersama keluarga tanpa gangguan, atau berjalan-jalan di alam sambil mengagumi kebesaran Allah. Sabat adalah tentang kualitas kehadiran kita di hadapan Tuhan dan sesama. Mari kita jadikan hari Minggu bukan sekadar hari untuk kegiatan gerejawi yang padat, melainkan hari untuk benar-benar beristirahat di dalam kasih Kristus. Dengan menghargai hari perhentian, kita akan memiliki kekuatan, kreativitas, dan damai sejahtera yang lebih besar untuk menghadapi tantangan enam hari berikutnya.

Berbagi
×