Mengapa Kita Harus Mengampuni? Tinjauan Kasih Kristiani

Pengampunan Sebagai Identitas

Dalam kamus dunia, pengampunan sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan atau kekalahan. Namun dalam perspektif iman Kristen, pengampunan adalah salah satu bentuk kekuatan karakter yang paling tinggi. Mengampuni berarti meniru sifat Allah Bapa yang adalah kasih. Tanpa pengampunan, kasih hanyalah sebuah kata benda yang mati; tetapi dengan pengampunan, kasih menjadi kata kerja yang menghidupkan dan memulihkan. Di tahun 2026 ini, mari kita gali lebih dalam mengapa perintah untuk mengampuni menjadi begitu sentral dalam kehidupan setiap pengikut Tuhan Yesus Kristus.

Dasar Teologis: Salib Sebagai Standar

Dasar dari pengampunan Kristen bukanlah perasaan manusiawi kita, melainkan karya Kristus di kayu salib. Ketika Yesus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34), Ia sedang menetapkan standar baru bagi umat manusia. Kita mengampuni bukan karena keadaan telah membaik atau karena pelaku telah berubah, tetapi karena kita tunduk pada otoritas Tuhan yang telah menebus kita. Di mata Allah, status kita adalah orang berdosa yang diampuni, maka secara moral kita tidak memiliki dasar untuk menolak mengampuni orang lain. Pengampunan adalah respons wajib atas anugerah (grace) yang telah kita terima.

Dampak bagi Pertumbuhan Rohani

Banyak orang Kristen merasa pertumbuhan rohaninya mandek atau doanya terasa terhalang. Sering kali, akar masalahnya adalah kepahitan yang tidak diselesaikan. Alkitab memperingatkan bahwa jika kita tidak mengampuni, maka Bapa di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita (Matius 6:15). Ini adalah peringatan serius. Pengampunan adalah saluran bagi kuasa Tuhan untuk mengalir. Saat kita menutup pintu pengampunan bagi orang lain, kita secara tidak sengaja menutup pintu bagi aliran damai sejahtera Allah dalam hidup kita sendiri. Oleh karena itu, mengampuni adalah kebutuhan vital bagi kesehatan jiwa dan pertumbuhan iman kita.

Langkah Praktis Menuju Pemulihan

Mengampuni tidak selalu berarti kita harus langsung menjadi sahabat dekat kembali dengan orang yang menyakiti kita, terutama dalam kasus yang melibatkan keamanan atau trauma. Namun, mengampuni berarti melepaskan keinginan untuk melihat orang itu celaka. Langkah praktisnya dimulai dengan kejujuran di hadapan Allah Bapa tentang rasa sakit kita, diikuti dengan keputusan kehendak untuk berhenti mengungkit kesalahan tersebut. Seiring waktu, Roh Kudus akan menyembuhkan emosi kita. Dengan hidup dalam pengampunan, kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa kasih Kristus benar-benar berkuasa mengubah kebencian menjadi kedamaian, menjadikan alunea.id sebagai terang melalui nilai-nilai restorasi ini.

Berbagi
×