Batas Akhir Pengampunan: Mengapa Kasih Tak Pernah Menyerah?

Matematika Pengampunan

Suatu kali Petrus bertanya kepada Yesus, “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Bagi Petrus, tujuh kali sudah sangat banyak. Namun jawaban Yesus meruntuhkan logika manusia: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:22). Di tahun 2026 ini, di mana budaya “cancel culture” begitu kuat, instruksi Yesus tentang pengampunan tanpa batas terasa sangat radikal dan kontra-budaya.

Mengapa Tanpa Batas?

Yesus tidak sedang menyuruh kita untuk menghitung hingga 490 kali. Angka tersebut adalah simbol kesempurnaan dan ketidakterbatasan. Kita dipanggil untuk mengampuni tanpa batas karena:

  1. Status Kita Sebagai Pendosa yang Diampuni: Kita adalah penerima anugerah yang tak terhingga; maka kita tidak berhak membatasi anugerah bagi orang lain.
  2. Kesehatan Jiwa kita: Pengampunan adalah detoks bagi jiwa. Tanpa pengampunan, roh kita akan layu oleh racun kebencian.
  3. Kesaksian bagi Dunia: Dunia mengenal kasih melalui cara kita merespons kesalahan. Pengampunan adalah khotbah yang paling kuat tanpa kata-kata.

Pengampunan vs. Kepercayaan

Perlu dipahami bahwa mengampuni tidak selalu berarti langsung memberikan kepercayaan yang sama atau kembali ke situasi yang membahayakan (dalam kasus kekerasan).

  • Mengampuni adalah urusan kita dengan Tuhan untuk melepaskan kebencian (selalu dilakukan segera).
  • Rekonsiliasi adalah urusan kedua belah pihak untuk memperbaiki hubungan (membutuhkan waktu dan perubahan sikap). Allah Bapa menghendaki kita bijak, namun tetap memiliki hati yang lembut untuk selalu membuka pintu maaf.

Menjadi Saluran Kasih di Alunea

Komunitas alunea.id hadir untuk mengingatkan bahwa kasih yang sejati tidak menyimpan kesalahan orang lain. Di pertengahan minggu ini, mari kita evaluasi “tangki” pengampunan kita. Jangan biarkan matahari terbenam sebelum kita membereskan hati dari segala amarah. Dengan mengampuni, kita sedang membiarkan cahaya Tuhan Yesus Kristus menyinari bagian-bagian tergelap di hati kita, mengubah luka menjadi mutiara yang berharga bagi kemuliaan-Nya.

Alunea
Alunea

Menulis tentang iman Kristen, pergumulan hidup, dan perjalanan rohani di Alunea.id. Percaya bahwa firman Tuhan relevan untuk kehidupan sehari-hari, bukan hanya untuk dibaca, tapi dihidupi.

×