Mengapa Ketulusan Sulit Ditemukan? Belajar Kasih Agape di Era Modern

Krisis Ketulusan
Di era media sosial tahun 2026, ketulusan sering kali menjadi barang langka. Banyak tindakan “baik” yang dilakukan demi konten atau pencitraan diri. Fenomena ini menciptakan budaya di mana kasih diukur dari seberapa banyak “like” atau pengakuan yang didapat. Namun, bagi orang percaya, kita dipanggil untuk keluar dari arus tersebut. Kita dipanggil untuk mempraktikkan kasih Agape—kasih yang bersumber dari Allah, yang tidak bergantung pada objek yang dikasihi, dan yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri.
Mengenal Kasih Agape vs. Eros & Philia
Dalam tradisi Kristen, kita mengenal beberapa jenis kasih. Eros adalah kasih yang berdasarkan ketertarikan, dan Philia adalah kasih persahabatan yang bersifat timbal balik. Keduanya baik, namun terbatas. Kasih Agape adalah level tertinggi karena ia adalah keputusan kehendak untuk mengusahakan yang terbaik bagi orang lain, tanpa peduli apakah kita mendapatkan keuntungan atau tidak. Allah Bapa menunjukkan Agape saat Ia mengutus Tuhan Yesus ketika kita masih berdosa. Ketulusan dalam Agape berarti kita menjadi saluran berkat yang “tembus pandang”—orang tidak melihat kita, melainkan melihat Tuhan melalui kita.
Hambatan dalam Mengasihi Tanpa Pamrih
Mengapa mengasihi tanpa pamrih itu sulit?
- Rasa Takut Dimanfaatkan: Kita sering takut jika terlalu baik, orang lain akan menginjak-injak kita.
- Kebutuhan akan Validasi: Ego manusia secara alami ingin dihargai.
- Kelelahan Emosional: Memberi terus menerus tanpa menerima balasan bisa terasa menguras tenaga jika kita tidak berakar di dalam Tuhan.
Cara Menumbuhkan Kasih yang Tulus
Untuk bisa mengasihi dengan tulus di tahun 2026 ini, kita perlu terus-menerus memandang pada Salib. Di sanalah standar kasih tanpa pamrih ditegakkan. Kita perlu belajar untuk melayani di “tempat-tempat sunyi” di mana tidak ada tepuk tangan manusia. Alunea hadir untuk mengingatkan bahwa nilai seorang manusia bukan ditentukan oleh seberapa banyak ia dikenal, melainkan seberapa tulus ia mencintai. Mari kita mulai dari hal-hal kecil: mendoakan orang yang membenci kita, membantu rekan kerja tanpa mengharap bantuan balik, dan memberikan senyum tulus tanpa agenda. Itulah kasih yang mengubah dunia.




