Tinggalkan Negerimu: Kisah Ketaatan Abraham Dipanggil Allah

Hidup dalam Ketidakpastian
Sebelum dikenal sebagai Bapa segala orang beriman, Abraham dipanggil Abram, dan ia tinggal di Ur-Kasdim, sebuah kota yang makmur namun penuh dengan penyembahan berhala. Dalam kehidupan yang stabil dan terstruktur ini, datanglah panggilan yang radikal dan mengubah segalanya. Panggilan ini tidak disertai peta atau rencana yang rinci, hanya janji yang luar biasa. Allah Bapa mendekati Abram dengan sebuah perintah yang menuntut ketaatan total dan iman yang buta.
Perintah dan Janji yang Menggemparkan
Dalam Kejadian 12:1, Allah Bapa berkata kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Perintah ini adalah permintaan untuk meninggalkan tiga hal terpenting dalam budaya timur tengah saat itu: keamanan tanah air, jaminan keluarga besar, dan warisan leluhur. Itu adalah permintaan untuk melepaskan segala jaminan duniawi.
Namun, perintah ini segera diikuti oleh tujuh janji yang mulia (Kejadian 12:2-3): Allah Bapa akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar, memberkati dia, membuat namanya masyhur, menjadikannya berkat, memberkati mereka yang memberkatinya, mengutuk mereka yang mengutuknya, dan yang paling penting, semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat melalui dia. Janji ini tidak hanya mengenai Abram secara pribadi, tetapi mengenai nasib seluruh umat manusia yang kemudian digenapi dalam Tuhan Yesus Kristus, keturunan Abraham.
Respons dan Ketaatan Murni
Yang menjadikan kisah ini luar biasa adalah respons Abram. Ayat 4 mencatat: “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan Yesus Kristus kepadanya.” Tidak ada pertanyaan, tidak ada negosiasi, dan tidak ada keraguan yang dicatat. Abram berusia tujuh puluh lima tahun ketika ia meninggalkan Ur, melakukan perjalanan tanpa tahu tujuannya. Ketaatan ini adalah tindakan iman murni. Ia percaya pada janji Allah Bapa yang tak terlihat dan tak teruji, lebih dari pada kenyamanan dan keamanan yang sudah pasti di Ur-Kasdim. Kepercayaan murni inilah yang kemudian diperhitungkan Allah Bapa kepadanya sebagai kebenaran.
Pelajaran tentang Iman
Kisah panggilan Abraham mengajarkan kita bahwa iman yang sejati selalu memerlukan langkah ketaatan yang radikal. Setiap orang percaya dipanggil untuk meninggalkan “Ur-Kasdim” spiritual mereka—zona nyaman, keterikatan duniawi, atau cara hidup lama—dan memulai perjalanan menuju negeri yang akan Tuhan Yesus Kristus tunjukkan. Ketaatan Abraham adalah bukti bahwa iman adalah percaya tanpa melihat dan melangkah tanpa mengetahui tujuan akhir, semata-mata karena kita percaya pada karakter Allah Bapa yang setia dan janji-Nya yang pasti.




