Orang Lumpuh Kapernaum: Empat Sahabat dan Satu Atap yang Terbuka

Rumah yang Penuh Sesak di Kapernaum
Kabar itu tersebar dengan cepat: Yesus ada di rumah. Penduduk Kapernaum segera membanjiri tempat itu hingga tidak ada lagi ruang, bahkan di depan pintu pun tidak. Di tengah hiruk-pikuk itu, empat orang pria datang sambil menggotong tilam seorang sahabat yang lumpuh. Mereka ingin bertemu Yesus, namun kerumunan itu bagaikan tembok yang mustahil ditembus. Bagi banyak orang, ini adalah titik untuk menyerah dan pulang. Namun tidak bagi keempat orang ini.
Inovasi di Atas Atap
Mereka naik ke atap. Bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk membongkarnya. Bayangkan debu dan kepingan atap yang jatuh ke dalam ruangan di mana Yesus sedang mengajar. Semua mata tertuju ke atas saat sebuah lubang besar mulai terlihat. Dengan hati-hati dan penuh perhitungan, mereka menurunkan sahabat mereka tepat di depan Yesus. Tindakan ini bukan sekadar nekat; ini adalah ekspresi tertinggi dari kasih dan iman. Mereka percaya bahwa satu detik di hadapan Tuhan Yesus Kristus jauh lebih berharga daripada risiko merusak rumah orang lain atau mendapatkan cemoohan dari kerumunan.
Lebih dari Sekadar Kesembuhan Fisik
Yesus melakukan sesuatu yang tak terduga. Sebelum menyembuhkan kakinya, Ia menyembuhkan jiwanya: “Dosamu sudah diampuni.” Yesus melihat akar masalah manusia yang paling dalam. Barulah setelah itu, Ia berkata, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang yang tadinya digotong, kini berjalan pulang sambil menggotong tempat tidurnya sendiri. Seluruh kota takjub dan memuliakan Allah Bapa. Mukjizat ini terjadi karena ada “empat orang” yang tidak membiarkan kesulitan menghentikan langkah mereka untuk membawa kasih.
Refleksi
Kisah ini menantang kita di alunea.id: Siapakah “empat orang” dalam hidup kita? Dan sudahkah kita menjadi salah satu dari “empat orang” bagi orang lain? Persahabatan Kristen yang sejati adalah persahabatan yang berorientasi pada Kristus. Di tengah kesibukan akhir Januari ini, mari kita ingat bahwa kita dipanggil untuk menjadi pembawa tilam bagi sesama. Kadang bantuan itu berupa doa, kata-kata penguatan, atau bantuan praktis yang “membongkar atap” kesulitan mereka. Jadilah sahabat yang membawa pemulihan, karena di dalam kasih persaudaraan, kuasa Tuhan bekerja dengan dahsyat.




