Memahami Kasih Agape di Era Modern

Apakah kita benar-benar mengenal kasih Agape? Februari identik dengan warna merah muda, cokelat, dan janji-janji manis. Di mana-mana kita merayakan cinta. Namun, jika kita jujur, cinta yang sering kita lihat di layar ponsel atau film romantis seringkali terasa… melelahkan. Cinta yang menuntut timbal balik, cinta yang hanya ada saat segalanya indah, atau cinta yang mudah memudar saat ekspektasi tidak terpenuhi itu bukan
Dunia mengenal banyak jenis kasih, namun Alkitab memperkenalkan kita pada satu jenis kasih yang melampaui logika manusia yaitu Kasih Agape.
Agape Bukan Sekadar Perasaan, Tapi Keputusan
Dalam bahasa Yunani, ada beberapa kata untuk kasih. Ada Eros (cinta romantis) dan Philia (persahabatan). Keduanya indah, tapi keduanya sangat bergantung pada perasaan dan kecocokan.
Agape berbeda. Agape adalah kasih yang berkorban. Ia tidak mencari keuntungan sendiri. Ia tidak bertanya, “Apa yang bisa aku dapatkan darimu?” melainkan “Apa yang bisa kuberikan untuk kebaikanmu?”
Rasul Paulus merangkumnya dengan indah dalam 1 Korintus 13. Kasih itu sabar, murah hati, tidak memegahkan diri, dan yang paling penting: ia tidak pernah gagal. Di era modern yang serba instan ini, kasih yang “sabar” dan “tidak mencari keuntungan sendiri” terdengar seperti sebuah revolusi.
Menghidupi Agape di Tengah Budaya Transaksional
Di tahun 2026, kita hidup di dunia yang sangat transaksional. Kita memberi jika kita menerima. Kita mengasihi jika orang tersebut “layak” dikasihi. Namun, Kristus menunjukkan standar yang berbeda.
Bagaimana agar kasih Agape itu benar-benar kita alami?
- Mengasihi yang “Tidak Terkasih”: Agape memanggil kita untuk tetap ramah kepada mereka yang tidak menyukai kita, dan tetap memberi ruang bagi mereka yang pernah mengecewakan kita.
- Memberi Tanpa Konten: Di era di mana kebaikan sering dijadikan konten demi likes, Agape menantang kita untuk memberi secara sembunyi-sembunyi, di mana hanya Tuhan yang tahu.
- Pengampunan sebagai Bentuk Kasih: Tidak ada kasih tanpa pengampunan. Kasih Agape tidak menyimpan kesalahan orang lain dalam “folder” ingatan kita untuk diungkit di kemudian hari.
Sumbernya Bukan dari Kita
Mungkin kamu berpikir, “Sangat sulit untuk mengasihi seperti itu.” Dan kamu benar.
Mengasihi dengan cara Agape secara terus-menerus adalah mustahil jika kita hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Kita hanya bisa memberikan kasih Agape setelah kita sendiri merasakan dan dipuaskan oleh kasih Agape Tuhan. Kita mengasihi, karena Dia lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19).
Kasih-Nya adalah sumber air yang tidak pernah kering. Saat kita merasa lelah mengasihi sesama, saat itulah kita perlu kembali ke “sumber” itu untuk diisi ulang agar Agape.
Penutup
Valentine mungkin akan segera berlalu, tapi panggilan untuk menghidupi kasih Agape tetap ada sepanjang tahun. Mari jadikan tahun 2026 ini bukan tentang seberapa banyak kita dicintai, tapi tentang seberapa tulus kita mampu membagikan kasih yang tak syarat itu kepada dunia yang sedang haus akan ketulusan.
Reflection Box untuk Kamu
- Siapa orang yang paling sulit kamu kasihi saat ini? Cobalah doakan satu hal baik untuknya hari ini.
- Dalam hubunganmu (pasangan, teman, atau keluarga), apakah kamu lebih sering menjadi “penagih” kasih atau “pemberi” kasih?




