Brother Lawrence: Menemukan Tuhan di Antara Tumpukan Piring Kotor

Pelayan di Dapur Biara
Banyak orang mengira bahwa untuk merasakan hadirat Tuhan, seseorang harus pergi ke gunung, masuk ke kamar gelap, atau menjadi pengkhotbah besar. Namun, seorang biarawan abad ke-17 bernama Brother Lawrence membuktikan hal yang berbeda. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya bekerja di dapur biara—mengupas kentang, mencuci piring kotor, dan menyiapkan makanan. Baginya, dapur adalah “kudus” sama seperti altar gereja.
Praktik Hadirat Allah
Brother Lawrence mengembangkan apa yang ia sebut sebagai “The Practice of the Presence of God” (Mempraktikkan Hadirat Allah). Ia belajar untuk terus berbicara dengan Tuhan secara terus-menerus di tengah kebisingan dapur. Ia melakukan setiap pekerjaan kecil dengan satu motivasi: kasih kepada Allah Bapa. Ia berkata, “Bagi saya, waktu bekerja tidak berbeda dengan waktu berdoa; dan di tengah kebisingan dapur, di mana banyak orang berteriak meminta ini dan itu, saya memiliki Tuhan dalam ketenangan yang sama besarnya seperti saat saya berlutut di Sakramen Mahakudus.”
Rahasia Kebahagiaan Sejati
Meskipun pekerjaannya rendah di mata manusia, kedamaian yang terpancar dari hidupnya menarik banyak orang datang meminta nasihat. Ia tidak menulis buku besar; ia hanya menulis surat-surat yang berisi bagaimana mencintai Tuhan dalam rutinitas. Ia mengajarkan kita di alunea.id bahwa kesucian tidak ditemukan dalam mengubah apa yang kita lakukan, melainkan mengubah untuk siapa kita melakukannya.
Refleksi Hari Minggu
Di hari Minggu ini, saat Anda mungkin sedang menyiapkan makanan, membersihkan rumah, atau bersiap pergi ibadah, ingatlah Brother Lawrence. Tuhan Yesus Kristus tidak hanya menunggu Anda di dalam gedung gereja; Ia ada bersama Anda di setiap detik hidup Anda. Mari kita mulai belajar berbicara dengan-Nya di tengah aktivitas paling membosankan sekalipun. Saat kita menyadari bahwa Tuhan ada di sana, piring kotor pun bisa menjadi sarana ibadah yang mulia.




