Kisah Pelita di Kegelapan: Panggilan Suci Florence Nightingale

Panggilan yang Tak Terbendung
Pada abad ke-19, wanita dari keluarga bangsawan seperti Florence Nightingale diharapkan hanya untuk menikah dengan pria kaya dan hidup dalam kemewahan sosial. Namun, pada usia 17 tahun, Florence menulis di buku hariannya: “Tuhan berbicara kepadaku dan memanggilku untuk melayani-Nya.” Ia tidak langsung tahu apa bentuk pelayanan itu, tetapi ia menolak segala tawaran pernikahan dan kenyamanan demi mencari kehendak Allah Bapa. Bagi Florence, iman tanpa perbuatan yang nyata bagi mereka yang menderita adalah iman yang hampa. Akhirnya, ia menemukan jalannya: dunia keperawatan yang saat itu dianggap rendah dan kotor.
“The Lady with the Lamp”
Saat Perang Krimea pecah, Florence membawa sekelompok perawat ke rumah sakit militer yang sangat memprihatinkan di Scutari. Kondisinya mengerikan: kotor, penuh tikus, dan tingkat kematian sangat tinggi karena infeksi. Florence tidak hanya mengatur kebersihan, tetapi ia bekerja hampir 20 jam sehari. Di malam hari, ketika semua lampu sudah dimatikan, ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang gelap dengan membawa sebuah pelita kecil untuk memeriksa satu per satu prajurit yang terluka. Para prajurit menyebutnya sebagai “Malaikat dari Krimea”. Pelitanya menjadi simbol harapan di tengah kegelapan maut.
Iman yang Mengubah Sistem
Banyak orang mengenal Florence Nightingale sebagai pelopor kebersihan medis, namun sedikit yang tahu bahwa motor penggeraknya adalah devosi pribadinya kepada Tuhan Yesus Kristus. Ia memandang setiap orang sakit sebagai citra Allah yang harus dirawat dengan hormat. Florence tidak hanya bekerja dengan tangan, tetapi juga dengan pikiran; ia menggunakan statistik untuk membuktikan bahwa sanitasi menyelamatkan nyawa. Baginya, kecerdasan adalah talenta yang diberikan Tuhan untuk memperbaiki dunia. Ia mengubah wajah keperawatan dari pekerjaan yang dipandang hina menjadi profesi mulia yang didasari oleh kasih dan disiplin.
Warisan bagi Kita di Tahun 2026
Kisah Florence Nightingale mengajarkan kita di alunea.id bahwa menaati panggilan Tuhan sering kali berarti harus berani berbeda dari tuntutan dunia. Florence bisa saja memilih hidup nyaman, tetapi ia memilih jalur pelayanan yang melelahkan namun penuh arti. Di pertengahan Januari ini, mari kita merenung: Adakah “pelita” yang bisa kita bawa ke tengah-tengah kegelapan di sekitar kita? Tidak perlu melakukan hal-hal besar yang tercatat dalam sejarah, cukup lakukan tugas kecil dengan kasih yang besar. Jadilah jawaban atas doa seseorang hari ini, dan biarlah hidup Anda menjadi saksi bahwa panggilan Tuhan adalah petualangan paling indah yang bisa dijalani manusia.




