Iman yang Tak Tergoyahkan: Kisah Polycarpus dari Smirna

Murid dari Rasul Yohanes

Polycarpus adalah tokoh penting dalam sejarah gereja mula-mula yang hidup pada abad kedua. Ia bukan sekadar pemimpin biasa; ia adalah murid langsung dari Rasul Yohanes. Di bawah bimbingan sang rasul yang dikasihi Tuhan itu, Polycarpus tumbuh menjadi seorang uskup di Smirna yang penuh dengan hikmat dan kasih. Selama puluhan tahun, ia memimpin jemaat dengan setia, melawan ajaran sesat, dan memperkuat iman orang-orang percaya di tengah penganiayaan Kekaisaran Romawi yang kejam. Baginya, Kristus bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan Sahabat dan Tuhan yang kehadirannya nyata dalam setiap hembusan napasnya.

Konfrontasi di Arena

Puncak ujian iman Polycarpus terjadi saat usianya sudah lanjut, yakni sekitar 86 tahun. Ia ditangkap oleh tentara Romawi dan dibawa ke arena untuk dieksekusi di hadapan ribuan penonton yang bersorak-sorai. Gubernur Romawi saat itu, yang merasa kasihan melihat usia senjanya, mencoba membujuknya untuk menyelamatkan diri. Ia diminta hanya untuk melakukan satu tindakan sederhana: menghujat Kristus dan menyembah Kaisar sebagai dewa. Gubernur itu berkata, “Hujatlah Kristus dan aku akan melepaskanmu.” Namun, tanggapan Polycarpus menjadi salah satu kutipan paling legendaris dalam sejarah Kristen yang menunjukkan kedalaman kasihnya kepada Sang Juru Selamat.

Kesetiaan Sampai Mati

Dengan suara yang tenang namun berwibawa, Polycarpus menjawab: “Delapan puluh enam tahun aku telah melayani-Nya, dan Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku bisa menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?” Jawaban ini menutup segala pintu negosiasi. Ia tetap teguh meskipun diancam akan dibakar hidup-hidup. Saat api mulai dinyalakan, sejarah mencatat bahwa Polycarpus tidak berteriak kesakitan, melainkan menaikkan doa syukur karena dianggap layak menderita demi nama Tuhan Yesus Kristus. Kematiannya tidak memadamkan gereja; sebaliknya, darahnya menjadi benih yang menumbuhkan iman jutaan orang di abad-abad berikutnya.

Warisan Iman bagi Kita

Kisah Polycarpus menantang kita di tahun 2026 ini: sejauh mana kesetiaan kita kepada Kristus? Kita mungkin tidak menghadapi ancaman eksekusi fisik, namun kita menghadapi “api” godaan duniawi, materialisme, dan tekanan untuk menyangkali nilai-nilai Alkitab. Polycarpus mengingatkan kita bahwa Allah Bapa tidak pernah gagal dalam penyertaan-Nya sepanjang hidup kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk mundur di tengah jalan. Mari kita jadikan kisah ini sebagai pengingat untuk tetap setia dalam hal kecil maupun besar. Jika Tuhan Yesus telah memberikan segalanya bagi kita, biarlah hidup kita menjadi persembahan yang tak tergoyahkan bagi kemuliaan-Nya.

Berbagi
×