Mengasihi Tanpa Syarat: Belajar dari Perumpamaan Anak yang Hilang

Gambaran Kasih yang Radikal
Salah satu narasi paling menyentuh yang pernah disampaikan oleh Tuhan Yesus Kristus adalah perumpamaan tentang seorang bapa yang memiliki dua anak lelaki. Meskipun sering disebut sebagai “Perumpamaan Anak yang Hilang”, kisah ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai “Perumpamaan Bapa yang Murah Hati”. Kisah ini merobohkan pemahaman manusia tentang kasih yang berbasis prestasi. Di dunia ini, kita sering merasa harus layak terlebih dahulu untuk dikasihi, namun melalui cerita ini, Kristus menyatakan bahwa kasih Allah Bapa melampaui segala logika kelayakan kita. Ini adalah kasih yang tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk bisa diterima kembali.
Penantian yang Penuh Kasih
Dalam cerita tersebut, setelah sang anak bungsu menghabiskan warisannya dalam kehidupan yang liar dan akhirnya menderita, ia memutuskan untuk pulang bukan sebagai anak, melainkan sebagai hamba. Namun, perhatikan reaksi sang bapa dalam Lukas 15:20: “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Kata “masih jauh” menunjukkan bahwa sang bapa secara konsisten menanti di depan rumah, mengharapkan kepulangan anaknya setiap hari. Kasih Allah Bapa adalah kasih yang proaktif; Ia tidak duduk diam menunggu kita memohon, tetapi Ia berlari menyambut kita bahkan sebelum kita sempat mengucapkan kata-kata permohonan maaf kita secara lengkap.
Kasih yang Memulihkan Identitas
Kasih tanpa syarat tidak hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan. Sang bapa tidak membiarkan anaknya menjadi hamba sebagaimana yang direncanakan si anak. Sebaliknya, ia memberikan jubah terbaik, cincin, dan kasut—semuanya adalah simbol pemulihan status sebagai anak yang sah. Inilah inti dari pesan kasih Kristus bagi kita: tidak peduli seberapa jauh kita telah melangkah pergi atau seberapa kotor hidup yang telah kita jalani, pelukan Allah Bapa selalu tersedia untuk memulihkan identitas kita. Kasih-Nya menghapus rasa malu dan menggantinya dengan martabat yang baru. Di akhir tahun ini, ini adalah pesan yang sangat krusial; bahwa kegagalan kita di masa lalu tidak pernah bisa membatalkan kasih Allah atas hidup kita.
Menjadi Pantulan Kasih Bapa
Setelah kita menerima kasih yang begitu besar, tantangan bagi kita adalah: mampukah kita membagikan kasih yang sama kepada orang lain? Sering kali kita bersikap seperti si anak sulung dalam cerita tersebut—merasa lebih benar dan enggan menerima mereka yang bersalah. Mengasihi tanpa syarat berarti kita bersedia melepaskan penghakiman dan memberikan kesempatan kedua kepada sesama. Mari kita menutup tahun 2025 ini dengan hati yang dipenuhi syukur atas kasih Allah Bapa yang luar biasa, dan berkomitmen untuk menjadi saluran kasih itu bagi dunia. Biarlah setiap orang yang bertemu dengan kita merasakan bahwa ada kasih yang tidak menuntut, kasih yang merangkul, dan kasih yang memulihkan di dalam Tuhan Yesus Kristus.




