Malaikat Jatuh dan Nefilim: Bagaimana Orang Kristen Awal Memahami Kejadian 6

Di antara baris-baris narasi Alkitab yang kita baca, Kejadian 6:1-4 sering kali menyisakan tanda tanya besar. Siapakah “anak-anak Allah” yang mengambil istri dari anak-anak perempuan manusia? Dan siapa sebenarnya para “raksasa” atau Nefilim yang muncul di bumi pada zaman itu? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya menarik perhatian pembaca modern, tetapi juga menjadi diskursus penting bagi orang Kristen mula-mula.
Dalam menelusuri pemahaman sejarah ini, kita sering menjumpai referensi dari Kitab Henokh. Namun, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada catatan penting yang perlu kita garis bawahi bersama: Kitab Henokh bukanlah kitab kanonik. Ia tidak memiliki otoritas yang setara dengan Alkitab yang kita pegang sebagai Firman Tuhan yang mutlak.
Meski demikian, penulis Alkitab seperti Yudas (Yudas 1:14-15) sempat mengutip bagian dari literatur ini. Oleh karena itu, kita membedah Kitab Henokh bukan untuk membangun doktrin atau fondasi iman yang baru, melainkan sebagai alat bantu latar belakang sejarah dan teologis. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana dunia kuno dan jemaat mula-mula memandang konteks kerusakan dunia sebelum air bah, dengan tetap menempatkan Alkitab sebagai otoritas tertinggi dan satu-satunya tolok ukur kebenaran.
Teka-Teki Kejadian 6: Siapakah “Anak-anak Allah”?
Narasi dalam Kejadian 6:1-4 sering kali terasa seperti sebuah potongan puzzle yang terputus. Teks tersebut mencatat bahwa ketika manusia mulai bertambah banyak, “anak-anak Allah” melihat kecantikan anak-anak perempuan manusia lalu mengawini mereka. Hasil dari hubungan ini adalah munculnya para Nefilim, orang-orang perkasa di zaman purbakala.
Dalam sejarah penafsiran Alkitab, ada dua pandangan utama yang sering diperdebatkan:
- Pandangan Keturunan Set: Pandangan ini menafsirkan “anak-anak Allah” sebagai garis keturunan Set yang saleh, sementara “anak-anak perempuan manusia” adalah keturunan Kain yang tidak mengenal Tuhan. Masalah dari pandangan ini adalah sulitnya menjelaskan mengapa pernikahan antar-manusia biasa menghasilkan raksasa (Nefilim).
- Pandangan Malaikat (Penjaga): Pandangan ini meyakini bahwa “anak-anak Allah” adalah makhluk surgawi atau malaikat yang jatuh. Meskipun terdengar asing di telinga pembaca modern, pandangan inilah yang justru dominan di kalangan orang Yahudi periode Bait Kedua dan banyak Bapa Gereja mula-mula.
Perspektif Kitab Henokh: “Para Penjaga” yang Jatuh
Di sinilah Kitab Henokh mengambil peran sebagai lensa sejarah. Dalam literatur tersebut, para malaikat ini disebut sebagai Watchers atau “Para Penjaga”.
Dalam tradisi Yahudi Bait Kedua, sebagaimana dicatat dalam Kitab Henokh, dikisahkan bahwa sekelompok malaikat turun ke Gunung Hermon dengan niat untuk melanggar batas kodrat mereka. Menurut narasi dalam Kitab Henokh, mereka tidak hanya menikahi manusia, tetapi juga mengajarkan berbagai pengetahuan yang merusak, seperti seni berperang dan sihir, yang mempercepat pembusukan moral manusia sebelum datangnya Air Bah.
Menariknya, perspektif ini memberikan konteks mengapa Rasul Petrus dan Yudas menggunakan bahasa yang sangat spesifik mengenai penghakiman malaikat. Perhatikan perbandingannya:
- 2 Petrus 2:4 menyebutkan tentang malaikat-malaikat yang berdosa lalu dilemparkan ke dalam lubang-lubang kegelapan.
- Yudas 1:6 menuliskan tentang malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka dan meninggalkan tempat kediaman mereka.
Bagi orang Kristen awal, referensi ini bukan dianggap sebagai dongeng, melainkan sebagai peringatan serius tentang konsekuensi dari pemberontakan terhadap tatanan yang telah ditetapkan Allah. Ini membantu menjelaskan mengapa para penulis Perjanjian Baru memandang kerusakan dunia kuno begitu radikal sehingga memerlukan pembersihan total melalui air bah.
Perbandingan Kritis: Henokh vs Alkitab
Meskipun Kitab Henokh memberikan gambaran yang lebih detail mengenai peristiwa di Kejadian 6, kita harus tetap bijak dalam membedah informasinya. Sebagai pembaca yang berpegang pada prinsip Alkitabiah, kita perlu melihat di mana titik temu dan di mana batasan tegas antara keduanya.
1. Kedalaman Detail vs. Fokus Teologis
Alkitab, dalam Kejadian 6, sangat singkat dan padat. Fokus utamanya adalah pada kerusakan moral manusia dan keadilan Allah. Di sisi lain, menurut Kitab Henokh, narasi ini jauh lebih panjang dengan menyebutkan nama-nama pemimpin malaikat seperti Samyaza atau Azazel. Ini membantu menjelaskan mengapa tradisi kuno memiliki pemahaman yang sangat spesifik tentang asal-usul kejahatan, namun Alkitab sengaja membatasi detail tersebut agar fokus kita tetap pada kedaulatan Allah, bukan pada hierarki makhluk jatuh.
2. Penulis Alkitab sebagai “Kurator”
Penting untuk memperhatikan bagaimana Rasul Yudas dan Petrus mengutip tradisi ini. Mereka tidak mengutip seluruh Kitab Henokh sebagai kebenaran mutlak, melainkan menggunakan bagian-bagian tertentu yang relevan untuk memperingatkan jemaat tentang penghakiman Tuhan. Dalam tradisi Yahudi Bait Kedua, Kitab Henokh adalah bacaan populer, namun para penulis Perjanjian Baru di bawah ilham Roh Kudus hanya mengambil esensi teologisnya tanpa mengangkat kitab tersebut menjadi setara dengan Taurat atau Kitab Para Nabi.
3. Alkitab Tetap Menjadi Otoritas Utama
Setiap klaim yang ditemukan dalam literatur luar harus selalu “diuji nyali” di hadapan Alkitab. Jika Kitab Henokh menggambarkan detail yang tidak dikonfirmasi oleh Alkitab—seperti ukuran raksasa yang tidak masuk akal atau ritual-ritual tertentu—maka kita harus memperlakukannya hanya sebagai data sejarah atau sastra, bukan sebagai kebenaran rohani. Alkitab tetap menjadi filter terakhir; apa yang tidak tertulis di dalam kanon berarti tidak dianggap krusial oleh Allah untuk keselamatan dan pertumbuhan iman kita.
Mengapa Pemahaman Ini Penting bagi Kita Sekarang?
Mempelajari bagaimana orang Kristen awal memahami Kejadian 6 melalui lensa sejarah ini memberikan kita dua pelajaran penting:
- Keseriusan Dosa: Pemahaman tentang “pelanggaran batas” oleh makhluk surgawi ini mengingatkan kita bahwa dosa bukan sekadar kesalahan moral, melainkan pemberontakan terhadap tatanan Allah yang membawa kerusakan sistemik bagi dunia.
- Kedaulatan Allah atas Kegelapan: Baik dalam Alkitab maupun literatur kuno yang menyertainya, pesan utamanya tetap sama: Allah tidak membiarkan kejahatan merajalela tanpa batas. Ada penghakiman bagi yang memberontak, dan ada pemeliharaan bagi mereka yang tetap setia seperti nuh.
Kembali kepada Kristus
Setelah menelusuri sejarah dan pemahaman orang Kristen awal mengenai para Penjaga dan Nefilim, kita perlu menarik langkah mundur untuk melihat gambaran besarnya. Memahami latar belakang Kejadian 6 melalui literatur seperti Kitab Henokh memang memberikan wawasan sejarah yang kaya, namun kita harus tiba pada satu kesimpulan yang tegas: Keselamatan kita tidak bergantung pada pengetahuan kita tentang Kitab Henokh.
Pengetahuan mengenai malaikat yang jatuh atau misteri raksasa di masa purbakala tidak memiliki kuasa untuk mengubah hati manusia. Sebaliknya, seluruh Alkitab—dari Kejadian hingga Wahyu—dirancang untuk mengarahkan pandangan kita kepada satu sosok yang jauh lebih berkuasa dari segala entitas surgawi mana pun, yaitu Yesus Kristus.
Kristus tetap menjadi pusat iman kita. Jika Kitab Henokh berbicara tentang penghakiman bagi malaikat yang memberontak, Alkitab berbicara tentang kemenangan mutlak Kristus atas mereka. Rasul Paulus menegaskan dalam Kolose 2:15 bahwa melalui salib, Kristus telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa (kuasa gelap) dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya.
Sebagai pembaca yang rindu untuk bertumbuh secara alkitabiah, mari kita menempatkan Kitab Henokh pada porsinya yang tepat: sebagai alat bantu sejarah yang menarik untuk memperluas cakrawala kita terhadap dunia Alkitab, namun bukan sebagai fondasi iman kita.
Fondasi kita hanyalah Firman Tuhan yang tertulis dalam kanon Alkitab yang suci. Di sanalah kita menemukan kecukupan (Sola Scriptura) untuk mengenal Allah, memahami dosa, dan menerima janji kekekalan. Mari kita terus belajar dengan rasa ingin tahu yang besar, namun dengan hati yang tetap tertuju pada kemuliaan Kristus—satu-satunya nama yang di dalamnya ada keselamatan.




