Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
— 2 Korintus 9:7
Pembuka
Di awal tahun seperti sekarang, kita sering kali disibukkan dengan pengelolaan keuangan dan perencanaan masa depan. Dalam situasi ini, sifat egois manusia bisa muncul, di mana kita merasa harus "menyimpan" segalanya untuk keamanan diri sendiri. Namun, Firman Allah Bapa melalui Rasul Paulus memberikan perspektif yang berbeda tentang cara kita memperlakukan apa yang kita miliki. Memberi bukan tentang seberapa besar jumlah yang keluar dari kantong kita, melainkan tentang kondisi hati yang mengiringi pemberian tersebut. Allah tidak melihat angka, melainkan melihat kerelaan dan sukacita yang terpancar saat kita menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Inti Renungan
Mengapa Allah begitu mengasihi orang yang memberi dengan sukacita? Karena saat kita memberi tanpa paksaan, kita sedang mencerminkan karakter Allah Bapa sendiri. Allah adalah Sang Pemberi Teragung yang telah memberikan Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus, bagi kita tanpa syarat. Ketika kita memberi dengan sedih hati atau karena merasa terpaksa, pemberian itu kehilangan makna rohaninya. Sukacita dalam memberi muncul ketika kita menyadari bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan, dan merupakan sebuah kehormatan bisa digunakan oleh Tuhan untuk menolong sesama. Memberi dengan sukacita membebaskan kita dari perhambaan terhadap materi dan mengikat hati kita lebih kuat pada harta surgawi yang kekal.
Ayat Pendukung
Kisah Para Rasul 20:35: "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."
Aplikasi
Hari ini, carilah satu kesempatan untuk memberi, sekecil apa pun itu. Pemberian tidak selalu berupa uang; bisa berupa waktu untuk mendengarkan, tenaga untuk membantu rekan kerja, atau sekadar senyum dan pujian tulus kepada seseorang yang sedang lelah. Periksalah motivasi hati Anda sebelum memberi. Lakukanlah dengan senyuman dan hati yang ringan, bukan karena ingin dipuji manusia, melainkan sebagai respons kasih atas segala kebaikan Tuhan yang telah Anda terima. Saat Anda mulai membiasakan diri memberi dengan sukacita, Anda akan menemukan bahwa ada kebahagiaan batin yang tidak bisa dibeli dengan apa pun, sebuah kedamaian yang melimpah karena Anda berjalan selaras dengan hati Allah.
Doa Penutup
Ya Tuhan Yesus Kristus, ajarlah kami untuk memiliki hati yang murah hati dan tangan yang terbuka. Ampunilah kami jika selama ini kami sering kali merasa berat hati untuk berbagi dengan sesama. Penuhilah hati kami dengan sukacita surgawi, sehingga setiap pemberian kami, baik tenaga, waktu, maupun materi, menjadi persembahan yang menyenangkan hati Allah Bapa. Jadikanlah hidup kami saluran berkat-Mu bagi dunia sepanjang tahun ini. Amin.
✍️ Alunea
← Beranda