Sejarah Misionaris di Tiongkok: Dari Kontak Asing hingga Gerakan Iman Orang Tiongkok

Tiongkok adalah salah satu peradaban tertua di dunia, dengan sistem filsafat, budaya, dan spiritualitas yang telah mengakar selama ribuan tahun melalui Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Karena itu, sering muncul anggapan bahwa Kekristenan adalah agama asing yang tidak pernah benar-benar berakar di negeri ini. Namun, sejarah menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks. Kekristenan telah hadir di Tiongkok selama lebih dari 1.300 tahun, melalui berbagai gelombang misi, konflik politik, dan—yang paling penting—melalui peran aktif orang Tiongkok sendiri.
Artikel ini menyajikan sejarah misionaris di Tiongkok secara kronologis dan seimbang: bukan hanya kisah para misionaris asing, tetapi juga tentang orang-orang Tiongkok yang menjadi penerjemah, penginjil, pemimpin gereja, bahkan martir. Tanpa mereka, Kekristenan tidak akan bertahan di Tiongkok.
Kekristenan Awal di Tiongkok: Jalur Sutra dan Gereja Timur (Abad ke-7)

Kekristenan pertama kali masuk ke Tiongkok pada tahun 635 M pada masa Dinasti Tang. Seorang misionaris dari Gereja Timur (sering disebut Nestorian), bernama Alopen, tiba di ibu kota Chang’an (sekarang Xi’an) melalui Jalur Sutra. Kaisar Tang Taizong menyambut ajaran ini dengan sikap relatif terbuka dan mengizinkan penyebarannya.
Yang penting untuk dicatat, komunitas Kristen awal ini tidak hanya terdiri dari orang asing. Sumber-sumber Tiongkok dan Prasasti Nestorian Xi’an (781 M) mencatat adanya pendeta, biarawan, dan pengajar Kristen dari kalangan orang Tiongkok sendiri. Ajaran Kristen diterjemahkan ke dalam istilah-istilah yang dipahami dalam kerangka Konfusianisme dan Buddhisme, menunjukkan proses inkulturasi yang serius.
Komunitas Kristen ini bertahan selama beberapa abad sebelum akhirnya menghilang akibat perubahan politik dan penindasan agama pada akhir Dinasti Tang. Meski demikian, ini membuktikan bahwa Kekristenan bukanlah pendatang baru di Tiongkok modern, melainkan bagian dari sejarah panjangnya.
Era Mongol dan Dinasti Yuan
Pada abad ke-13, Kekristenan kembali muncul di Tiongkok di bawah kekuasaan Mongol. Dinasti Yuan yang didirikan oleh Kubilai Khan relatif toleran terhadap berbagai agama. Misionaris Katolik dari ordo Fransiskan datang dan mendirikan komunitas Kristen di Beijing (saat itu dikenal sebagai Khanbaliq).
Dalam periode ini, orang-orang Asia Tengah dan Tiongkok yang berada di bawah kekuasaan Mongol turut menjadi bagian dari komunitas Kristen. Namun, ketika Dinasti Yuan runtuh dan digantikan oleh Dinasti Ming, Kekristenan kembali mengalami kemunduran dan hampir menghilang.
Era Yesuit: Misi Intelektual dan Orang Tiongkok Kristen Awal (Abad ke-16–17)

Gelombang penting berikutnya datang melalui misionaris Yesuit pada akhir Dinasti Ming. Tokoh paling terkenal adalah Matteo Ricci, yang tiba di Tiongkok pada akhir abad ke-16. Ricci menggunakan pendekatan yang berbeda dari misionaris sebelumnya: ia mempelajari bahasa, budaya, dan filsafat Tiongkok, serta memperkenalkan Kekristenan melalui ilmu pengetahuan seperti matematika, astronomi, dan kartografi.
Keberhasilan misi Yesuit tidak terlepas dari peran orang Tiongkok Kristen awal yang sangat berpengaruh. Tokoh terpenting adalah Xu Guangqi, seorang ilmuwan dan pejabat tinggi Dinasti Ming. Setelah menjadi Kristen, Xu Guangqi bekerja sama dengan Ricci menerjemahkan karya ilmiah Barat dan menulis pembelaan Kekristenan dalam bahasa Tionghoa.
Selain Xu Guangqi, terdapat pula Li Zhizao dan Yang Tingyun—dua sarjana Konfusianisme yang menjadi Kristen dan secara aktif menulis serta menyebarkan ajaran Kristen di kalangan intelektual. Mereka bukan sekadar pengikut pasif, melainkan misionaris lokal yang menjembatani iman Kristen dengan budaya Tiongkok.
Kontroversi Ritus Leluhur dan Larangan Kekaisaran
Keberhasilan Yesuit justru memicu konflik internal Gereja Katolik, yang dikenal sebagai Kontroversi Ritus Tiongkok. Perdebatan ini berpusat pada pertanyaan apakah praktik penghormatan leluhur dan Konfusius dapat diterima dalam iman Kristen.
Ketika Vatikan akhirnya melarang praktik tersebut, Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing menilai Kekristenan sebagai ajaran asing yang tidak menghormati tradisi Tiongkok. Akibatnya, Kekristenan dilarang dan banyak orang Tiongkok Kristen mengalami tekanan dan penganiayaan.
Abad ke-19: Misionaris Protestan dan Perubahan Politik

Abad ke-19 menandai gelombang terbesar misionaris Kristen di Tiongkok, terutama setelah Perang Candu dan perjanjian tidak adil yang memaksa Tiongkok membuka pelabuhan-pelabuhan utamanya. Misionaris Protestan seperti Robert Morrison dan Hudson Taylor mulai bekerja di kota-kota pesisir seperti Guangzhou, Shanghai, Ningbo, Fuzhou, dan Xiamen.
Namun, penting untuk dicatat bahwa penyebaran Kekristenan tidak hanya dilakukan oleh orang Barat. Orang-orang Tiongkok yang telah menjadi Kristen berperan sebagai guru, penginjil, dan penerjemah Alkitab. Mereka sering kali menjadi penghubung utama antara misionaris asing dan masyarakat lokal.
Dari Pesisir ke Pedalaman: Gereja Rakyat
Melalui organisasi seperti China Inland Mission, Kekristenan menyebar ke wilayah pedalaman seperti Sichuan, Hunan, Henan, dan Shaanxi. Di sinilah peran orang Tiongkok menjadi semakin dominan. Banyak gereja desa dipimpin sepenuhnya oleh penginjil lokal, bukan misionaris asing.
Pada tahap ini, Kekristenan mulai berubah dari agama asing menjadi gerakan rakyat. Ajaran Kristen diterjemahkan ke dalam bahasa daerah dan dipraktikkan dalam konteks kehidupan sehari-hari masyarakat Tiongkok.
Penolakan dan Kekerasan: Pemberontakan Boxer

Sentimen anti-asing memuncak dalam Pemberontakan Boxer (1900). Kekristenan dipandang sebagai simbol imperialisme Barat, dan ribuan orang Kristen dibunuh. Mayoritas korban bukanlah misionaris asing, melainkan orang Tiongkok Kristen sendiri.
Peristiwa ini menunjukkan harga mahal yang harus dibayar oleh orang Tiongkok yang memeluk iman Kristen, sekaligus membuktikan bahwa komunitas Kristen lokal telah berkembang cukup besar untuk menjadi target utama kekerasan.
Abad ke-20: Gereja Mandiri dan Pemimpin Lokal
Pada awal abad ke-20, muncul pemimpin-pemimpin Kristen Tiongkok yang menandai kemandirian gereja lokal. Watchman Nee dan Wang Mingdao adalah dua tokoh penting yang mengembangkan teologi dan praktik gereja yang tidak bergantung pada misi asing.
Setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949, semua misionaris asing diusir. Namun, Kekristenan tidak punah. Sebaliknya, gereja-gereja lokal, termasuk gereja rumah, terus bertumbuh di bawah kepemimpinan orang Tiongkok sendiri.
Kekristenan di Tiongkok Kontemporer

Hari ini, Kekristenan di Tiongkok hadir dalam berbagai bentuk: gereja resmi yang terdaftar dan gereja rumah yang tidak terdaftar. Meskipun menghadapi pembatasan, jumlah orang Kristen diperkirakan terus bertambah.
Fenomena ini menegaskan satu kesimpulan penting: Kekristenan di Tiongkok bertahan bukan karena misionaris asing, melainkan karena orang Tiongkok sendiri yang menjadikannya bagian dari identitas dan kehidupan mereka.
Kesimpulan
Sejarah misionaris di Tiongkok adalah kisah panjang tentang pertemuan iman, budaya, dan kekuasaan. Dari Jalur Sutra hingga gereja rumah modern, Kekristenan telah mengalami penolakan, adaptasi, dan transformasi. Yang paling menentukan dalam sejarah ini bukanlah kekuatan asing, melainkan keberanian dan ketekunan orang Tiongkok yang memilih dan menyebarkan iman Kristen di tanah mereka sendiri.
Sumber referensi
- Samuel Hugh Moffett, A History of Christianity in Asia, Vol. I–II.
- David E. Mungello, The Chinese Rites Controversy.
- Latourette, Kenneth Scott, A History of Christian Missions in China.
- Paul Cohen, China and Christianity.
- Prasasti Nestorian Xi’an (781 M) – Museum Beilin, Xi’an.
- Jonathan D. Spence, The Memory Palace of Matteo Ricci.




